- Sungai di Sumatera Selatan membentuk karakter masyarakat yang terbuka, egaliter dan berketuhanan. Karakter tersebut mendorong proses akulturasi budaya, yang melahirkan beragam tradisi dan budaya.
- Berbagai tradisi dan budaya masyarakat di sekitar sungai di Sumatera Selatan, sebagian sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh pemerintah.
- Wayang Palembang salah satu bukti akulturasi budaya Jawa dan Melayu di Palembang.
- Wayang dapat dijadikan media penyampai pesan penjaga alam.
Sumatera Selatan yang merupakan bagian penting dari Pulau Sumatera, memiliki kekayaan alam luar biasa dari dataran tinggi hingga rendah, baik biotik maupun abiotik.
Sungai atau batanghari adalah salah satu wujud kekayaan tersebut. Sungai bukan hanya ruang bagi air, batuan, pasir, juga menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup. Mulai dari mikroorganisme, tumbuhan air, ikan air tawar, ampibi, reptil, invertebrata, hingga burung, berang-berang dan buaya.
Sumatera Selatan dikenal sebagai negeri “Batanghari Sembilan”. Sebab, di wilayah ini terdapat sembilan sungai besar, yakni Sungai Musi, Sungai Komering, Sungai Ogan, Sungai Lematang, Sungai Lakitan, Sungai Batanghari Leko, Sungai Kelingi, Sungai Rupit, dan Sungai Rawas. Sembilan sungai tersebut membentuk ekosistem lahan basah, yang luasnya sekitar tiga juta hektar.
Dalam pemikiran Friedrich Ratzel (Jerman) dan Ellsworth Huntington (Amerika Serikat) yang mengembangkan teori Determinisme Lingkungan, kekayaan sungai membentuk budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya. Sungai bukan hanya sebagai sumber air bersih, pangan, juga sarana transportasi.
Kehidupan sungai tidak mengenal dominasi hierarki. Air mengalir bebas dari hulu ke hilir maupun sebaliknya, bebas diakses semua makhluk hidup, serta memberi penghidupan tanpa menuntut balas. Pada akhirnya, melahirkan masyarakat terbuka, egaliter, dan berketuhanan.
Masyarakat yang terbuka, egaliter, dan berketuhanan tersebut memfasilitasi proses akulturasi budaya, sehingga kebudayaan di Sumatera Selatan, kaya tradisi dan pengetahuan, seperti kekayaan alamnya.
Pengetahuan lokal melebur dengan berbagai pengetahuan Hindu-Buddha, Islam, dan Barat, yang melahirkan beragam tradisi dan budaya, seperti arsitektur, sistem kepercayaan, seni, dan lainnya.
Dari 67 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di Sumatera Selatan, yang telah ditetapkan pemerintah hingga 2026, tercatat sekitar 18 WBTb yang terhubung dengan aktivitas masyarakat dengan sungai. Untuk kuliner, antara lain bubur suro Palembang, bekasem, sagarurung, gulo puan, pindang, dan pempek. Arsitektur tradisional berupa rumah limas. Sementara, sastra tutur antara lain senjang, ande-ande, dan incang-incang.
Untuk pengetahuan tradisional, yaitu tikar purun, lelang lebak lebung, dan rumah rakit Palembang. Seni pertunjukan seperti dulmuluk, bidar, tari lading, dan musik batanghari sembilan. Terakhir, manuskrip berupa surat ulu.
Sementara cagar budaya tingkat nasional semuanya berada di tepian sungai. Misalnya, Goa Harimau di sekitar Sungai Ogan, Percandian Bumi Ayu di sekitar Sungai Lematang, sementara Masjid Agung Palembang, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Benteng Kuto Besak, dan Gedung Ledeng, berada di sekitar Sungai Musi.
“Sebenarnya, banyak tradisi dan budaya yang hidup pada masyarakat sekitar sungai di Sumatera Selatan, yang akan ditetapkan sebagai WBTb maupun cagar budaya. Tapi saat ini, kita terus melakukan kajian dan secara bertahap mengusulkannya ke pemerintah pusat,” kata Agung Saputro, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, di sela pertunjukan Wayang Palembang, Gedung Pameran, Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, Minggu (26/7/26).
Kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di Sumatera Selatan, terkait dengan Sungai Musi bersama lahan basah lainnya. “Kekayaan alam di sungai maupun di sekitarnya, baik satwa dan tanaman telah melahirkan hubungan khusus dengan manusia, sehingga melahirkan banyak pengetahuan yang akhirnya menjadi tradisi dan budaya. Mulai kuliner hingga obat-obatan tradisional,” jelasnya.
Wayang Palembang, kata Agung, merupakan akulturasi budaya agraris Jawa dengan budaya maritim Palembang. Wayang kulit purwa yang dibawa para bangsawan Jawa ke Palembang beberapa abad lalu, diterima masyarakat melayu di Palembang dikarenakan bahan baku kulit untuk wayang mudah didapatkan.
“Masyarakat yang menetap di sekitar sungai, umumnya memelihara kerbau. Kulit kerbau ini dijadikan wayang, sementara tanduknya digunakan untuk pegangan (gapit atau cempurit).”
Dijelaskan Agung, Wayang Palembang bersama wayang kulit lainnya di Indonesia, telah ditetapkan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai Warisan Budaya Takbenda (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 7 November 2013.
Wayang harimau
Fatimah Azzahra, pelajar kelas VI Sekolah Dasar Negeri 185 Palembang, melukis tokoh wayang bukan sosok Arjuna, Bima atau Semar. Dia melukis harimau sumatera dan kucing sebagai tokoh wayang. Bahkan SpongeBob juga hadir dalam lukisan wayangnya.
“Saya suka harimau dan kucing. Dua hewan ini menarik, lucu. SpongeBob tokoh kartun kesukaan saya,” kata Fatimah, usai menyelesaikan lukisannya, di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, Minggu (26/7/26).
Meskipun belum pernah melihat langsung harimau sumatera, Fatimah membayangkan jika harimau, kucing, dan hewan lainnya, dijadikan tokoh dalam pertunjukan wayang. “Keren itu. Apalagi kalau dalam ceritanya, harimau bertemu SpongeBob, Patrick Star, dan Tuan Krabs,” tuturnya.
Keliaran imajinasi Fatimah melukis wayang di atas kanvas berukuran 40 x 30 sentimeter dengan cat akrilik, membuatnya menjadi juara pertama dalam lomba lukis wayang Palembang tersebut. Dia mengalahkan Zahrah Nabila Pasya (SMPN 1 Palembang) dan Marwah Taqiyyatunnisa (SMP Negeri 33) yang masih melukiskan tokoh wayang dari cerita Mahabharata dan Ramayana, sebagai juara kedua dan ketiga.
Ditanya mengapa menyukai harimau dan kucing, “Tidak tahu ya. Awalnya, sejak kecil senang kucing, lalu saat melihat gambar harimau, ternyata ada kucing lebih besar, dan wujudnya lebih cantik,” katanya.
Erwan Suryanegara, budayawan Palembang, menyatakan wayang merupakan seni yang sangat terbuka. Jika ingin wayang terus bertahan, memang harus lebih inovatif. Jika ingin digemari generasi saat ini, tokoh-tokohnya tidak hanya dari Mahabharata dan Ramayana. Bisa tokoh baru atau yang sudah dikenal generasi muda saat ini.
“Paling utama adalah nilai-nilai yang akan disampaikan. Nilai-nilai luhur bangsa ini. Misalnya, tentang pentingnya menjaga alam atau lingkungan,” jelasnya.
Referensi:
BRIN, & BAPPENAS. (2025). Status Keanekaragaman Hayati Ekoregion Sumatera.
Huntington, E. (1915). Civilization and climate. New Haven, Yale University Press.
Ratzel, F. (1882). Anthropogeographie. Stuttgart, J. Engelhorn.
*****
Facts Only
* The rivers in South Sumatra shape the society into an open, egalitarian, and divine community.
* This character promoted cultural acculturation, leading to diverse traditions and cultures.
* Various local traditions and cultures around the rivers have been designated as Intangible Cultural Heritage (WBTb) by the government.
* Wayang Palembang demonstrates the cultural acculturation of Javanese and Malay cultures in Palembang.
* The river system in South Sumatra includes nine major rivers: Musi, Komering, Ogan, Lematang, Lakitan, Batanghari Leko, Kelingi, Rupit, and Rawas.
* These rivers form a wetland ecosystem spanning approximately three million hectares.
* Friedrich Ratzel and Ellsworth Huntington's environmental determinism theory suggests that river wealth shapes the surrounding culture.
* River life exhibits a lack of hierarchy, allowing free flow and access for all living beings.
* Local knowledge merged with Hindu-Buddhist, Islamic, and Western knowledge, creating diverse traditions.
* Examples of recognized WBTb include culinary items (bubur suro Palembang, pempek), architecture (rumah limas), and traditional knowledge (tikar purun).
* National cultural heritage sites are located along riverbanks, such as Goa Harimau near Sungai Ogan and Masjid Agung Palembang near Sungai Musi.
Executive Summary
Full Take
The narrative establishes a strong linkage between the physical geography of the rivers in South Sumatra, particularly the Batanghari system, and the formation of an open, egalitarian, and spiritually grounded culture. This connection is framed through environmental determinism, where the abundance and free flow of water influence human societal structures. The process of acculturation is presented as the mechanism through which local knowledge—rooted in the relationship with the diverse aquatic and terrestrial life—integrated external knowledge systems (Hindu-Buddhist, Islamic, Western) to create unique cultural expressions, such as Wayang Palembang.
A key dynamic emerges from the discussion surrounding Wayang: the adaptation of form based on local resources, where buffalo hide was historically utilized for puppets. This demonstrates a practical synthesis rather than simple adoption. The shift in focus towards modernizing narrative themes within Wayang, exemplified by Fatimah's artistic preference for local fauna and contemporary pop culture figures like SpongeBob alongside traditional motifs, signals a tension between preserving heritage and engaging contemporary imagination. Erwan Suryanegara’s call for innovation in Wayang suggests that cultural resilience depends on adapting the content while retaining the underlying ethical values, such as environmental stewardship.
The pattern observed is one where deep, inherent ecological knowledge acts as the foundation; when this knowledge is channeled through cultural practices like art and tradition, it produces valuable intangible heritage. The potential manipulation vector lies in overlooking the agency of the communities themselves in defining these traditions versus imposing external definitions or market demands on them. The implication is that ensuring the vitality of WBTb requires valuing the process of local adaptation—how folklore evolves when juxtaposed with new realities—rather than treating heritage as a static collection of artifacts situated along riverbanks. What are the mechanisms by which contemporary artistic choices within Wayang can reinforce, rather than fracture, the foundational principles derived from the riverine ecosystem?
Sentinel — Human
The text reads like an essay or feature article that synthesizes academic context, regional facts, and anecdotal evidence, demonstrating a layered structure typical of human reporting.
