- Para petambak Delta Mahakam memulai praktik berbeda dalam mengelola tambak ikan dan kepitingnya. Ketika pada umumnya warga akan menebang mangrove ketika bangun tambak, di Delta Mahakam, mereka membiarkan, bahkan menanam mangrove di dalam tambak.
- Lebih 50% hutan mangrove Delta Mahakam berkurang karena alih fungsi lahan menjadi tambak udang dan ikan. Praktik itu terjadi sejak 1980-an. Selama bertahun-tahun mangrove mereka anggap penghalang bagi produktivitas tambak di Delta Mahakam.
- Laporan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai Kartanegara pada 2003 menunjukkan 107.221 hektar daratan Delta Mahakam terokupasi 10.645 tambak tradisional. Mereka gunakan seluas 57.912 hektar atau 54% dari daratan. Dua tahun kemudian angka naik jadi 75.000-an hektar.
- Kini, Delta Mahakam menjadi lokasi utama rehabilitasi mangrove di Kalimantan Timur. Hingga pertengahan 2026, puluhan kelompok masyarakat terlibat dalam mengembalikan tutupan mangrove. Bagi mereka, keberadaan mangrove membantu kualitas air, menjamin suplai pakan alami serta kestabilan ekosistem pesisir.
Puluhan tahun Asharuddin jadi petambak di Delta Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dia menyaksikan perlahan hutan mangrove bersalin menjadi petak-petak tambak.
Selama bertahun-tahun, Asharuddin menganggap mangrove sebagai penghalang. Akar-akar yang rapat itu dia nilai menghambat perluasan tambak, sumber ekonomi keluarga di Delta Mahakam.
Sekitar lima tahun lalu, keyakinannya mulai memudar. Saat masih sebagai pengepul kepiting, dia rutin mendatangi tambak kerabatnya, Rustam di Sepatin, Delta Mahakam.
Tambak itu seluas sekitar 40 hektar. Rustam memilih mempertahankan mangrove alami di dalam tambak.
Awalnya Asharduddin heran mengapa tambak itu bisa panen jauh lebih baik dari tambak lain. Belakangan dia tahu karena pemilik tambak tetap mempertahankan mangrove.
“Waktu itu saya lihat kok banyak pohonnya (mangrove). Saya pikir kenapa bisa tetap bagus hasilnya. Ternyata, mangrove juga menghisap racun-racun yang terpendam di lumpur. Itu sebenarnya salah satu kuncinya,” katanya.
Dari informasi Asharuddin, sistem budidaya di tambak itu menggunakan pola tebar benih bertahap bersama mangrove atau yang dikenal dalam sistem silvofishery (tambak tumpang sari).
Metode budidaya perikanan, seperti bandeng atau udang selang seling dengan penanaman mangrove secara periodik agar fungsi ekologis dan produktivitas tambak tetap seimbang.
“Panen bisa setiap dua bulan sekali. Biasanya lebih dari satu ton, terkadang hampir dua ton. Kalau dijual bisa ratusan juta rupiah.”
Giat rawat mangrove
Setelah melihat perubahan itu, keyakinannya berbalik. Kini, dia menjadi salah satu orang yang paling giat merawat mangrove Delta Mahakam.
Dalam prosesnya, Asharuddin tak mengalami hambatan saat mulai menanam mangrove di tambaknya sekitar dua tahun lalu.
Pemahaman soal mangrove mulai dia dapatkan setelah mendapat banyak akses informasi serta bantuan dari program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).
“Kalau untuk saya sendiri tidak ada masalah. Semuanya lancar karena sebelumnya saya jelaskan dulu ke keluarga. Saya bilang kita coba dulu. Kalau berhasil, nanti saya ajak petambak lain ikut,” kata Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Gemilang Sejahtera Abadi (GSA) ini kepada Mongabay Indonesia, Jumat (31/7/26).
Setelah melihat hasil, Asharuddin terbilang lancar mengajak petambak ikuti praktik serupa.
Agenda reforestasi di Delta Mahakam ini sudah mulai sejak 2021. Dulu, operator adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), kini Kementerian Kehutanan bersama Kementerian Lingkungan Hidup. Juga, Kementerian Koordinator Pangan, dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui program M4CR.
Melalui M4CR, Kemenhut memadukan pendekatan ekologis dan sosiologis untuk mengoptimalkan target rehabilitasi lahan yang bisa memberi dampak ekonomi bagi warga masyarakat.
Pemerintah memberikan dukungan kepada petambak dan kelompok tani hutan (KTH) berupa pelatihan silvofishery, sekolah lapang, akses legal perhutanan sosial hingga 30 tahun. Juga, bantuan dana insentif (matching grant), dan pendukung ekonomi alternatif. Khusus M4CR, program ini mulai kembali di Delta Mahakam pada 2024.
“Ini penting karena sebagian masyarakat masih menyimpan keraguan terhadap manfaat mangrove bagi tambak. Dia memilih membuktikan melalui praktik langsung, bukan sekadar teori.”
Manfaat ekonomi, katanya, memang belum langsung terasa. Selama proses rehabilitasi atau reforestasi mangrove, kelompok masyarakat hanya memperoleh insentif kecil.
“Kalau sekarang paling istilahnya uang rokok saja,” ujarnya tertawa.
Mangrove perbaiki ekosistem tambak
Tujuan utama program M4CR ini bukan sekadar insentif. Dia berharap hasil rehabilitasi mangrove jadi contoh nyata agar makin banyak petambak bersedia mengikuti pola serupa.
“Kalau nanti terbukti berhasil, Insya Allah petambak lain akan ikut. Harapan saya program ini terus berjalan.”
Asharuddin katakan, akar mangrove menjadi tempat berkembangnya plankton yang menjadi sumber makanan alami bagi udang, kepiting, maupun ikan.
“Di dalam akar-akar mangrove itu banyak plankton. Di situ udang, kepiting, sama ikan berlindung sambil mencari makan,” katanya.
Kini, Asharuddin mulai mencoba menanam mangrove di bagian luar tambaknya. Dulu dia juga pernah mencoba menanam bakau itu di tengah-tengah tambak.
Sebagai penunjang dia juga membeli ajir— patok atau bilah penopang bibit mangrove—untuk mendukung penanaman berikutnya.
Asharuddin berharap, keberhasilan rehabilitasi dapat menjadi contoh bagi petambak lain di Delta Mahakam.
“Kalau orang sudah lihat hasilnya sendiri, mereka pasti mau ikut.”
Baginya, rehabilitasi mangrove bukan berarti mengurangi ruang produksi tambak. Sebaliknya, vegetasi pesisir itu justru dia yakini mampu menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, menjadi habitat berbagai biota, sekaligus meningkatkan produktivitas tambak dalam jangka panjang.
Kerabatnya sudah membuktikan itu, sekarang gilirannya mengambil peran.
“Yang penting kita buktikan dulu. Kalau berhasil, saya yakin petambak lain akan mengikuti,” katanya.
Ekosistem mangrove membaik, Perubahan perilaku para petambak
Achmad Nuriyawan, Direktur Yayasan Mangrove Lestari (YML) mengatakan, kondisi mangrove Delta Mahakam dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan perbaikan. Sejumlah lembaga dan institusi mulai aktif mendorong pemulihan kawasan pesisir.
Namun, tantangan terbesar justru berada pada bagaimana memastikan mangrove terus terpelihara setelah program atau proyek berakhir.
“Untuk saat ini ya, sudah mulai ada perbaikan. Terus kegiatan-kegiatan pemulihan juga sudah banyak didorong oleh beberapa institusi atau lembaga,” kata Angga, sapaan akrabnya.
Kondisi berbeda dengan situasi sebelum 2010. Ketika itu, rehabilitasi mangrove di Delta Mahakam masih sangat terbatas.
YML yang berdiri pada 2012 menjadi salah satu lembaga yang aktif merehabilitasi sekaligus mengkaji persoalan masyarakat di kawasan itu.
Angga bilang, YML tak langsung memulai kegiatan dengan menanam mangrove. Mereka terlebih dahulu penilaian sekitar enam bulan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat dan persoalan kawasan.
“Karena kalau bicara kegiatan hulu tanpa disambungkan kegiatan hilir maka keberlanjutannya akan menjadi pertanyaan besar. Mereka nanam mangroven tujuannya apa sih? Dampaknya apa? Itu yang harus kita gambarkan.”
YML mulai menyusun program pada 2013. Pendekatan tak hanya berorientasi pada pemulihan ekosistem, juga menghubungkan rehabilitasi mangrove dengan penghidupan masyarakat.
“Jadi, kondisi saat ini sudah mulai ada pemulihan dari beberapa lembaga ataupun institusi. Kalau yang dulu itu kan masih terbatas. Yang harus dijaga itu, bagaimana menjaganya (mangrove). Itu yang paling berat,” katanya.
Keterlibatan Angga dalam isu rehabilitasi mangrove juga berangkat dari pengalaman sebagai masyarakat pesisir. Dia pernah membuka dan mengelola tambak di Delta Mahakam.
Dari pengalaman itu, dia melihat produktivitas tambak makin menurun. Kondisi itu mendorongnya mempelajari hubungan antara ekosistem mangrove dengan produktivitas pesisir.
“Jadi permasalahan sebetulnya pertama itu menurunnya daya dukung kualitas air dan lahan. Itulah yang jadi pertimbangan kenapa mangrove penting.”
Persoalan lain muncul ketika rehabilitasi mangrove harus berhadapan dengan realitas bahwa sebagian besar Delta Mahakam untuk tambak.
Menurut dia, desain rehabilitasi harus membuat masyarakat merasa memiliki ekosistem mangrove itu. Jika tak mengganggu produksi tambak, peluang masyarakat untuk mempertahankan akan lebih besar.
Mangrove lenyap 50%?
Laporan Badan Perencana dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai Kartanegara menyebut, pada 2003 menunjukkan 107.221 hektar daratan Delta Mahakam terokupansi 10.645 tambak tradisional seluas 57.912 hektar atau 54% dari luas daratan. Rata-rata satu tambak seluas 5,4 hektar.
Dua tahun kemudian, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar mendata luas tambak di kawasan itu meningkat jadi 75.311 hektar atau sekitar 70% luas daratan delta.
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), melalui Program Kelautan, mengembangkan analisis spasial multi-temporal mangrove dan tambak di Kalimantan Timur menggunakan citra satelit. Mereka gunakan, seperti Landsat 5 TM, Landsat 7 ETM+, data 2000, dan Sentinel 2 untuk data 2019.
Pada periode 1990-2000 maupun 2000-2019, dominasi perubahan mangrove menjadi tambak paling besar berada di Delta Mahakam daripada kawasan pesisir lain di Benua Etam.
Sebanyak 80% dari perubahan lahan mangrove pada periode 1990-2000 di Delta Mahakam jadi tambak, sisanya, aktivitas lain, seperti perkebunan, permukiman, dan kerusakan karena pembukaan lahan.
Pada April 2022, NASA Earth Observatory juga mencatat deforestasi di Delta Mahakam menggunakan pengamatan satelit Landsat dengan data perekaman rentang waktu 1989-2020. Hasilnya, sekitar 55% dari 1.100 kilometer persegi luas delta yang dulu merupakan hutan mangrove habis beralih fungsi jadi budidaya tambak udang.
Dalam riset bertajuk “The potential of Indonesian mangrove forests for global climate change mitigation” yang terbit di jurnal Nature Climate Change (2015), Daniel Murdiyarso dan kolega menjelaskan, mangrove menyediakan pelbagai jasa ekosistem. Mulai dari siklus hara, pembentukan tanah, produksi kayu, area pemijahan ikan, hingga ekowisata dan penyimpanan karbon.
Para peneliti menyatakan, mencegah kerusakan hutan mangrove merupakan langkah adaptasi sekaligus mitigasi perubahan iklim yang sangat efektif.
Riset lain dari Amy Ickowitz dan kawan-kawan yang terbit di The Lancet Planetary Health (2023) berjudul Quantifying the contribution of mangroves to local fish consumption in Indonesia: a cross sectional spatial analysis membuktikan, dari sudut pandang adaptasi sosial-ekologi. Temuannya, konservasi mangrove tak hanya menahan krisis iklim juga menjaga kedaulatan pangan lokal.
Keberadaan mangrove meningkatkan akses dan konsumsi ikan segar masyarakat pesisir hingga 19–28%. Ia jadi insentif ekonomi dan kesehatan nyata bagi warga lokal untuk terus menjaga hutan mangrove dari kerusakan.
Jalan tengah rehabilitasi?
Asman Azis, Manajer Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Kalimantan Timur, menerangkan, sekitar 80% program M4CR di Benua Etam masih berpusat di Delta Mahakam.
Berbeda dengan pola rehabilitasi konvensional, M4CR menggunakan pendekatan silvofishery yang menekankan paradigma budidaya ikan bekelanjutan.
Dengan pola ini, budidaya mulai dengan membuat saluran air yang mengelilingi tambak dengan tumbuhan mangrove tanam di tengahnya.
Ada pula tambak selang-seling dengan lahan mangrove. Dengan pola itu pun, terjadi keterpaduan antara tumbuhan (silvo) dengan hewan ( fishery). Kombinasi itu juga yang membuat metode itu dengan sebutan silfovishery.
Mereka tak minta masyarakat kembalikan seluruh lahan menjadi hutan mangrove, hanya sebagian kecil.
“Dalam rehabilitasi penuh satu hektar bisa membutuhkan sekitar 10.000 bibit. Di tambak kami hanya menanam sekitar 800 bibit per hektar. Artinya, tidak sampai 1% dari kebutuhan rehabilitasi penuh. Sekitar 90% lebih lahan tetap untuk ekonomi masyarakat.”
Pendekatan itu mereka pilih agar petambak tidak kehilangan sumber penghasilan sekaligus tetap memperoleh manfaat ekologis dari keberadaan mangrove.
Meski demikian, kata Asman, masih ada kekhawatiran masyarakat bahwa mangrove akan mengurangi luas tambak. Padahal, katanya, manfaat mangrove, salah satu mendukung kualitas air tambak.
Dia katakan, sebelumnya banyak petambak mengalami kegagalan karena air pasang membawa limbah hingga benur udang mati, tidak lama setelah penebaran.
Kondisi itu, kini mulai berubah.
“Mangrove menjadi penyaring alami limbah yang masuk ke tambak. Selain itu mangrove juga menyerap karbon empat sampai lima kali lebih besar dibanding hutan daratan.”
*****
Facts Only
* Petambak Delta Mahakam membiarkan atau menanam mangrove di dalam tambak ikan dan kepiting.
* Lebih dari 50% hutan mangrove Delta Mahakam berkurang karena alih fungsi lahan menjadi tambak udang dan ikan sejak tahun 1980-an.
* Laporan Bappeda Kutai Kartanegara tahun 2003 mencatat 107.221 hektar daratan terokupasi 10.645 tambak tradisional di Delta Mahakam, menggunakan sekitar 54% dari daratan.
* Luas tambak meningkat menjadi sekitar 75.000 hektar dalam dua tahun setelah data 2003.
* Asharuddin mengamati bahwa mangrove membantu menghisap racun dari lumpur.
* Sistem budidaya menggunakan pola tebar benih bertahap bersama mangrove, dikenal sebagai silvofishery (tambak tumpang sari).
* Panen dapat mencapai lebih dari satu ton per dua bulan, dengan nilai jual ratusan juta rupiah.
* Program M4CR di Delta Mahakam dimulai pada tahun 2024 dan melibatkan Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Koordinator Pangan, dan BPDLH.
* Rehabilitasi menggunakan pendekatan silvofishery dengan menanam mangrove sebagai saluran air di tengah tambak.
* Dalam rehabilitasi, hanya sekitar 800 bibit mangrove per hektar ditanam untuk mempertahankan aspek ekonomi masyarakat.
Executive Summary
Petambak di Delta Mahakam telah mengadopsi praktik berbeda dalam pengelolaan tambak ikan dan kepiting, dengan membiarkan mangrove tetap ada atau bahkan menanamnya di dalam tambak, berbeda dari kebiasaan menebang mangrove untuk membangun tambak. Praktik ini muncul karena pengalaman Asharuddin yang awalnya menganggap mangrove sebagai penghalang produktivitas. Setelah melihat bahwa mangrove membantu menyerap racun dan menyediakan pakan alami, sistem budidaya beralih ke pola silvofishery, yaitu menebar benih secara bertahap bersama mangrove. Metode ini memungkinkan panen yang lebih baik (hingga dua ton per dua bulan) dengan hasil yang berkelanjutan.
Perubahan ekologis terlihat jelas dalam upaya rehabilitasi mangrove di Delta Mahakam, di mana puluhan kelompok masyarakat terlibat untuk mengembalikan tutupan hutan tersebut karena manfaatnya terhadap kualitas air dan stabilitas ekosistem pesisir. Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga riset, yang mendorong pendekatan pemulihan ekologis yang juga menghubungkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Meskipun insentif awal untuk rehabilitasi belum sepenuhnya terasa secara ekonomi langsung, ada harapan bahwa keberhasilan ini akan menjadi contoh bagi petambak lain untuk mengadopsi praktik berkelanjutan.
Full Take
The narrative traces a complex negotiation between immediate economic gain and long-term ecological sustainability in Delta Mahakam. The initial pattern shows an assumption that mangrove acts purely as an impediment to production, which is later challenged by empirical observation—the mechanism of pollutant filtration and the provision of natural food sources (plankton) within the root systems. This shifts the dynamic from viewing mangroves as a cost to recognizing them as an integrated ecological component necessary for optimized yield.
A critical tension emerges between top-down rehabilitation initiatives and bottom-up community adoption. While large programs like M4CR offer support through silvofishery methods, the text highlights lingering skepticism among communities regarding tangible economic benefits during the rehabilitation phase, exemplified by the comment about incentives being equivalent to cigarette money. This suggests that technical solutions must successfully bridge the gap between ecological benefit and immediate livelihood security for adoption to be sustained.
The shift in understanding is reinforced by longitudinal data: the extensive loss of mangrove land for aquaculture juxtaposed with subsequent recognition of mangroves' role in climate change mitigation, soil health (via nutrient cycling), and local food security. The pattern here suggests that true resilience requires moving beyond simple conservation mandates to establishing shared ownership where the ecological value is intrinsically linked to the economic viability of the farming system, rather than treating them as separate, competing objectives.
Bridge Questions: If current incentives remain insufficient, what specific long-term market mechanisms or regulatory frameworks are required to ensure the sustained economic benefit from mangrove-integrated aquaculture? How can rehabilitation programs structurally guarantee that communal ownership and management supersede short-term external funding priorities? What measurable indicators could be developed that demonstrate the full socio-economic return on investing in silvofishery versus conventional expansion?
