- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian meluas. Data TNBTS menyebut, karhutla melahap 176 hektar, titik api pertama kali berada di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) pukul 17.00. Guna memadamkan api, ratusan personel terdiri atas petugas Balai Besar TNBTS dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta relawan berjibaku.
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur kerahkan tiga helikopter untuk membantu pemadaman api. Helikopter digunakan operasi water bombing untuk menjangkau daerah curam, dan sulit dijangkau tim pemadam kebakaran.
- Upaya pemadaman dan penanganan kebakaran menggunakan peralatan pemukul api atau gepyok dan alat semprot (sprayer). Juga dikerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran.
- Rosek Nursahid, Ketua PROFAUNA meminta dilakukan sosialisasi untuk memitigasi karhutla di kawasan TNBTS. Sasarannya warga yang berada di sejumlah desa penyangga. Selain itu, harus ditempatkan petugas di jalur dan pintu keluar dan masuk kawasan tersebut.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian meluas. Minggu (9/8/26), akun Instagram hamdaaa14_membagikan video hamparan rerumputan di Gunung Bromo yang biasa hijau bak bermadani, kini berubah menjadi hitam kelam.
Nyaris semua tutupan padang sabana terbakar, dengan sebagian kecil yang tampak menguning. Sampai pukul 17.00, unggahan yang dibagikan 166 akun dan disukai 4.419 akun serta mendapat komentar dari 130 orang. “Ini sisa-sisa kebakaran kemarin yang melahap semuanya,”kata Hamda.
Data TNBTS menyebut, karhutla melahap 176 hektar, titik api pertama kali berada di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) pukul 17.00. Guna memadamkan api, ratusan personel terdiri atas petugas Balai Besar TNBTS dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta relawan berjibaku.
Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar TNBTS, menduga kebakaran karena faktor manusia, bukan alam. Pasalnya, awal titik api berada di Blok Bantengan, merupakan jalur tradisional perlintasan warga yang menghubungkan Desa Argosari-Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
“Nah, kemungkinan saat melintas malam hari saat udara dingin membuat perapian. Mungkin lupa mematikan sehingga menjadi pemicu kebakaran,” katanya kepada jurnalis.
Menurut dia, tak ada unsur kesengajaan dalam karhutla kali ini tetapi murni faktor kelalaian manusia. Karhutla di TNBTS berdampak langsung terhadap aktivitas wisata gunung api Gunung Bromo.
Wisata tutup total
TNBTS putuskan menutup total seluruh akses wisata ke Gunung Bromo sejak Minggu (9/8/26). Sebelumnya, penutupan hanya dua pintu masuk, yakni, Jemplang di Kabupaten Malang dan Senduro, Lumajang. Sedangkan akses dari Cemoro Lawang, Probolinggo dan Wonokitri Pasuruan masih terbuka.
“Ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan,” katanya.
Selama kebakaran, rata-rata pengunjung turun 25%.
Rudijanta klaim kebakaran yang terjadi tak berdampak langsung terhadap satwa. Lantaran lokasi kebakaran sebagian besar merupakan padang sabana. Apalagi, sebagian berada di area tebing curam yang tak menjadi habitat satwa endemik di TNBTS. “Di tebing tidak begitu banyak satwa yang tinggal, kecuali serangga,” katanya.
Jumat (7/8/26), Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur (Jatim) tiba di lokasi untuk meninjau langsung operasi pemadaman. Dia telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengerahkan helikopter guna membantu proses pemadaman.
Satu unit helikopter dari TNI AL berkapasitas 1000 liter air juga telah pemerintah provinsi turunkan. Dari dari BNPB mengirim dua helikopter untuk menjangkau daerah curam, dan sulit terjangkau tim pemadam. “Semoga anginnya bersahabat sehingga memaksimalkan water bombing,” kata Khofifah.
Operasi water bombing di TNBTS juga pernah terjadi saat kebakaran 2023. Saat itu, pengambilan air di Danau Kaliandra, Kabupaten Pasuruan dan Waduk Selorejo, Kabupaten Malang. Sekarang bisa mengambil air dari Danau Ranupani, Lumajang.
“Air diambil di Ranupani, sehingga lebih dekat,” katanya.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mengerahkan drone mengangkut air 150 liter. Kendati memiliki jangkauan terbatas, penggunaan drone juga untuk memantau sebaran area yang terbakar.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB melalui pernyataan tertulis menyampaikan, karhutla makin meluas. Sempat muncul titik api di jalur Jemplang menuju Watu Gede secara administratif wilayah Kabupaten Malang. Terpantau area Pusung Ledok Bedor keluar asap. “Kondisi cuaca cerah dengan kecepatan angin sedang,” tulis Abdul.
Tim gabungan memantau arah angin untuk mengantisipasi perubahan arah atau penyebaran api akibat hembusan angin. Penanganan di lapangan menghadapi karena kontur tanah di Kaldera Tengger, lereng dan terjal. Kondisi embusan angin dan sejumlah titik sulit terjangkau. Untuk mempercepat penanganan, BNPB kerahkan tiga helikopter .
Upaya pemadaman libatkan tim gabungan terdiri atas BPBD Jatim, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, Balai Besar TNBTS, polisi kehutanan dan unsur relawan. Upaya pemadaman dan penanganan kebakaran menggunakan peralatan pemukul api atau gepyok dan alat semprot (sprayer). Ada juga satu mobil pemadam kebakaran.
“Terdapat satu titik api di kawasan Desa Sariwani, Kabupaten Probolinggo yang dulit dipadamkan. Medan ekstrem dengan kontur terjal,” tulisnya.
BNPB juga melaporkan ada titik api di sekitar tugu perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Kondisi medan yang terjal dan ekstrem menjadi kendala upaya pemadaman. Selain itu, angin kencang di sekitar lokasi juga berpotensi mempercepat perambatan api.
BNPB juga menyiapkan dukungan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah tambahan untuk mendukung penanganan karhutla. OMC, sesuai kondisi cuaca dan kebutuhan penanganan di lapangan.
Pemprov Jatim menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan. Status darurat tertuang dalam Keputusan Gubernur Jatim Nomor 100.3.3.1/327/013/2026. Status darurat berlaku selama 180 hari, terhitung sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026. Bupati Probolinggo juga menetapkan status yang sama melalui Keputusan Bupati Probolinggo Nomor 300.2/326/426.32/2026.
Perlu mitigasi
Rosek Nursahid, Ketua Profauna menuturkan padang sabana yang terbakar minim satwa, lantaran didominasi rumput dan semak-semak. Jadi, tidak ada satwa endemik, langka dan menonjol. “Ada burung-burung khas pegunungan,” katanya.
Meski begitu, sebagai ekosistem, padang sabana memiliki peranan penting dalam TNBTS. Karhuta, berpotensi menyebabkan degradasi ekosistem. Meski dampak secara ekologis, perlu kajian mendalam.
Area Gunung Bromo, katanya, ada banyak jalan tak resmi masyarakat lokal yang tinggal di desa penyangga kawasan TNBTS jadi perlu antisipasi agar tak berisiko.
Menurut dia, kebakaran tak hanya api unggun saja, karena saat kemarau panjang juga bisa terjadi karena puntung rokok. “Rumput mengering, rokok bisa memicu kebakaran,” kata Rosek.
Dia mendorong, sosialisasi intensif untuk mitigasi karhutla di TNBTS. Sasarannya warga di sejumlah desa penyangga. Selain itu, harus ada petugas di jalur dan pintu keluar dan masuk kawasan jadi bisa mengingatkan setiap orang masuk atau lewat agar tidak membuat api unggun, dan membuang puntung rokok.
Karhutla, kata Rosek, menyedot banyak sumber daya mulai personil memadaman api hingga dana. Dia juga mengingatkan kawasan hutan d Gunung Arjuno, berpotensi terjadi kebakaran.
Rosek bersama ranger Profauna berpatroli di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo di Gunung Arjuno menemukan aktivitas masyarakat membakar rumput untuk pertanian di kawasan penyangga. Jika terjadi kebakaran berpotensi merembet ke hutan di kaki Gunung Arjuno.
*****
Facts Only
* Karhutla in TNBTS covered 176 hectares.
* The first fire started at Blok Bantengan on Monday, August 3, 2026, at 17:00.
* Hundreds of personnel from TNBTS, BPBD, and volunteers fought the fire.
* BNPB and the East Java Provincial Government deployed three helicopters for water bombing.
* Firefighting involved tools such as fire poker, stamp, sprayer, and one fire truck.
* The local fire chief suggested human error, possibly unattended campfires during cold nights, as a cause.
* Access to Mount Bromo was closed to tourism.
* Visitor numbers dropped by an average of 25% during the fire.
* No direct impact on endemic wildlife was reported due to the nature of the burned areas.
* The East Java Provincial Government declared a State of Emergency for Drought and Forest and Land Fires.
